1. Ksyl

    Tapi aku sudah bosan, layaknya barang mereka sudah usang. Tak dapat ku ajak main atau ku ajak bicara. Karena boneka ini tak mengerti apa yang kubicarakan, mereka bicara dengan nada yang berbeda. Seperti berteriak, tapi mereka terlalu kecil dan suara mereka pun hanya terdengar seolah itu hanyalah angin. Tapi mereka terus berbisik, seakan ku tak mendengar dan mengerti. Sebenarnya aku tak ingin mendengar dan aku tak ingin tau apa yang mereka bicarakan, namun aku pun tak mengerti kenapa mereka selalu ada di kanan-kiriku. Walaupun aku pindah, tapi mereka terus saja mengikuti dengan langkah-langkah kecil mereka. Aku ingin menjauh dan membuangnya tapi aku tak bisa. Aku tau boneka-boneka ini tak seperti ini seakan mereka sedang dalam panggung, mereka bersandiwara. Mereka terus berpura-pura mengetahui segalanya, tapi aku tak dapat dikelabui karena aku tau mereka tak dapat mendengar, mereka hanya terus berbicara. Mereka melangkah sejauh kaki-kaki mereka bisa menggapainya, tapi sayang itu hanyalah beberapa senti dari tempat semula. Mereka terus saja bebrbicara dengan nada tinggi seperti marah dan memerintah, seakan aku bonekanya dan dialah bosnya. Tapi tak sadar tinggi mereka hanyalah setinggi lututku ketika aku berdiri. Tak sadar tangan mereka tak bisa menggenggam, hanya bisa menyentuh dan meraba.. Mereka terus tertawa seperti mereka tak mengerti, siapa yang besar dan siapa yang kecil. Aku selalu memandang aneh ke boneka-boneka ku itu. Aneh memang. Mereka terus melakukan hal itu berulang-ulang. Berbisik. Tertawa aneh. Marah&memerntah.

    Aku ingin pergi, tapi ada sesuatu yang menahanku. Dan akupun tau tangan lemah yang memegangku ini hanyalah sebuah jam dinding. Ya, waktu yang menahanku.

    1 year ago  /  Notes